SOEKARNO, GUS DUR, & AHMADINEJAD

SOEKARNO

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil  Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970.  Ayah beliau  bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibu beliau bernama Ida Ayu Nyoman  Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak.  Dari istri Fatmawati mempunyai anak  Guntur, Megawati,  Rachmawati, Sukmawati dan Guruh.  Dari istri Hartini mempunyai Taufan  dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak  Kartika.

Masa  kecil Soekarno hanya dihabiskan beberapa tahun bersama kedua orang  tuanya di Blitar. Semasa SD hingga  tamat,  beliau tinggal di Surabaya, tinggal di rumah  Haji Oemar Said Tokroaminoto, seorang politisi kawakan pendiri Syarikat  Islam. Beliau kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya Saat belajar  di HBS. Selepas lulus dari HBS tahun  1920,  beliau pindah  ke Bandung dan melanjutkan  ke THS (Technische Hoogeschool atau  sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi  ITB). Ia berhasil meraih  gelar “Ir” pada 25Mei 1926.

Beliau kemudian merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai  Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927 dengan tujuan  Indonesia Merdeka. Akibatnya Belanda memasukkan beliau ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929.  Delapan bulan kemudian baru beliau menjalani persidangan. Dalam pembelaan berjudul Indonesia menggugat, beliau menunjukkan keburukan Belanda dalam menjajah Indonesia.

Pembelaannya itu membuat Belanda semakin marah, sehingga pada Juli 1930,  PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun  1931,  Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya beliau kembali  ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun  1933.  Empat  tahun  kemudian beliau dipindahkan ke Bengkulu. Namun semangat Soekarno tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan. Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu. Soekarno baru benar-benar bebas setelah masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Di awal kependudukannya, Jepang tidak terlalu memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia hingga akhirnya sekitar tahun 1943 Jepang menyadari betapa pentingnya para tokoh ini. Jepang mulai memanfaatkan tokoh pergerakan Indonesia dimana salah satunya adalah Soekarno untuk menarik perhatian penduduk Indonesia terhadap propaganda Jepang. Akhirnya tokoh-tokoh nasional ini mulai bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk dapat mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang tetap melakukan gerakan perlawanan seperti Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya. Soekarno sendiri mulai aktif mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, di antaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar-dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan.

Pada bulan Agustus 1945, Soekarno diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara ke Dalat, Vietnam. Marsekal Terauchi menyatakan bahwa sudah saatnya Indonesia merdekan dan segala urusan proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah tanggung jawab rakyat Indonesia sendiri. Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Para tokoh pemuda dari PETA menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena pada saat itu di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan.

 

Ini disebabkan karena Jepang telah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan beberapa tokoh lainnya menolak tuntutan ini dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang.

Pada akhirnya,Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional lainnya mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Berdasarkan sidang yang diadakan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) panitia kecil untuk upacara proklamasi yang terdiri dari delapan orang resmi dibentuk. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya. Teks proklamasi secara langsung dibacakan oleh Soekarno yang semenjak pagi telah memenuhi halaman rumahnya di Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dikukuhkan oleh KNIP. Kemerdekaan yang telah didapatkan ini tidak langsung bisa dinikmati karena di tahun-tahun berikutnya masih ada sekutu yang secara terang-terangan tidak mengakui kemerdekaan Indonesia dan bahkan berusaha untuk kembali menjajah Indonesia.

Gencaran senjata dari pihak sekutu tak lantas membuat rakyat Indonesia menyerah, seperti yang terjadi di Surabaya ketika pasukan Belanda yang dipimpin oleh Brigadir Jendral A.W.S Mallaby berusaha untuk kembali menyerang Indonesia. Rakyat Indonesia di Surabaya dengan gigihnya terus berjuang untuk tetap mempertahankan kemerdekaan hingga akhirnya Brigadir Jendral AWS Mallaby tewas dan pemerintah Belanda menarik pasukannya kembali. Perang seperti ini tidak hanya terjadi di Surabaya tapi juga hampir di setiap kota.

Republik Indonesia secara resmi mengadukan agresi militer Belanda ke PBB karena agresi militer tersebut dinilai telah melanggar suatu perjanjian Internasional, yaitu Persetujuan Linggajati.

 

Walaupun telah dilaporkan ke PBB, Belanda tetap saja melakukan agresinya. Atas permintaan India dan Australia, pada 31 Juli 1947 masalah agresi militer yang dilancarkan Belanda dimasukkan ke dalam agenda rapat Dewan Keamanan PBB, di mana kemudian dikeluarkan Resolusi No 27 tanggal 1 Agustus 1947, yang isinya menyerukan agar konflik bersenjata dihentikan. Atas tekanan Dewan Keamanan PBB, pada tanggal 15 Agustus 1947, Pemerintah Belanda akhirnya menyatakan akan menerima resolusi Dewan Keamanan untuk menghentikan pertempuran.

Pada 17 Agustus 1947, Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda menerima Resolusi Dewan Keamanan untuk melakukan gencatan senjata dan pada 25 Agustus 1947 Dewan Keamanan membentuk suatu komite yang akan menjadi penengah konflik antara Indonesia dan Belanda. Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno kembali diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS.

Karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali diubah menjadi Republik Indonesia dimana Ir Soekarno menjadi Presiden dan Mohammad Hatta menjadi wakilnya. Pemberontakan G30S/PKI melahirkan krisis politik hebat di Indonesia. Massa dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan aksi demonstrasi dan menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) yang salah satu isinya meminta agar PKI dibubarkan. Namun, Soekarno menolak untuk membubarkan PKI karena menilai bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan pandangan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme).

Sikap Soekarno yang menolak membubarkan PKI kemudian melemahkan posisinya dalam politik. Lima bulan kemudian, dikeluarkanlah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang ditandatangani oleh Soekarno dimana isinya merupakan perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan yang perlu guna menjaga keamanan pemerintahan dan keselamatan pribadi presiden.

Surat tersebut lalu digunakan oleh Soeharto yang telah diangkat menjadi Panglima Angkatan Darat untuk membubarkan PKI dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang. MPRS pun mengeluarkan dua Ketetapannya, yaitu TAP No IX/1966 tentang pengukuhan Supersemar menjadi TAP MPRS dan TAP No XV/1966 yang memberikan jaminan kepada Soeharto sebagai pemegang Supersemar untuk setiap saat bisa menjadi presiden apabila presiden sebelumnya berhalangan. Pada 22 Juni 1966, Soekarno membacakan pidato pertanggungjawabannya mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S. Pidato pertanggungjawaban ini ditolak oleh MPRS hingga akhirnya pada 20 Februari 1967 Soekarno menandatangani Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka.

Hari Minggu, 21 Juni 1970 Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta. Presiden Soekarno disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan kemudian dimakamkan di Blitar, Jawa Timur berdekatan dengan makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.

Kondisi politik pada masa pemerintahan Soekarno masih kurang stabil dan morat marit karena Negara Indonesia baru saja merdeka. Sehingga masih banyak sekali yang harus dibenahi dan diatur. Selain itu banyak juga pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat untuk melepaskan diri dari NKRI yang menyebabkan kondisi politik masa itu tidak menentu.

  1. Kelebihan politik pada masa Soekarno
  2. Presiden soekarno mengeluarkan TRIKORA untuk menyelamatkan Irian Barat dari Belanda
  3. Pemerintah mengadakan Konferensi Malino yang salah satu hasilnya adalah lahirnya nama IRIAN (Ikut Republik Indonesia Anti Nederland) untuk menumbuhkan semangat nasionalisme penduduk Irian Barat
  4. Pada masa ini pemerintah berhasil menggerakan semangat pemuda untuk melakukan perubahan-perubahan
  5. Berhasilnya penyelenggaraan pemilu tahun 1955, ini disebut-sebut merupakan pemilu paling demokratis sampai saat ini
  6. Pembubaran badan konstituante karena dinilai tidak berhasil dalam menjalankan tugasnya menyusun Undang-Undang Dasar yang baru sehingga digunakannya kembali UUD 1945
  7. Kekurangan politik pada masa Soekarno
  8. Terjadi banyak terror dan makar
  9. a) APRA (angkatan perang ratu adil) yang merupakan gabungan dari KNIL dan KL yang tidak mau bergabung dengan Indonesia
  10. b) Andi Aziz yang merupakan tentara KNIL Makasar tidak mau bergabung dengan adanya TNI
  11. c) RMS (Republik Maluku Selatan), keinginan untuk melepaskan diri dari RI
  12. d) PERMESTA (Sumatera)/PRRI (Sulawesi), mereka juga ingin melepaskan diri dari RI
  13. e) Pemberontak Berkedok Agama , ini dilakukan oleh Darul Islam yang ingin membentuk Negara Islam Indonesia
  14. G30 S/PKI adalah partai komunis
  15. Demokrasi liberal saat itu runtuh karena stabilitas politik tidak pernah terjadi, cabinet mudah sekali berganti
  16. Kekuasaan pemerintah sangant kuat , ini dibuktikan dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang menandakan pemerintah mempunyai kekuasaan diatas kewenangan eksekutif
  17. MPRS menetapkan bahwa Presiden Soekarno adalah perseiden seumur hidup
  18. Pada masa ini secara tidak sadar telah mengikuti salah satu blok dunia, yaitu blok komunis. Politik luar negeri bebas aktif disalahartikan dengan membentuk poros Jakarta-Peking, hal ini karena adanya kedekatan antara Soekarno-PKI
  19. Soekarno membatasi dan mengeliminasi kekuatan partai politik dengan mencoba memperluas wewenang Dewan Nasional hasil bentukannya

Dari perjalanan hidup Soekarno kita bisa memetik berbagai pelajaran. Kesempatan yang diimiliki beliau untuk melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi menunjukkan bahwa sebenarnya beliau berada di zona nyaman. Akan tetapi hati nurani Soekarno berteriak ketika memikirkan kondisi Bangsa Indonesia saat itu. Berbagai ideologi modern tentap konsep negara dari dunia barat dikombinasikan dengan ideologi agama dan sejarah panjang Indonesia mendorong beliau untuk mengeluarkan ide-ide dan tindakan nasionalis yang berusaha menyadarkan pemuda lain bahwa Indonesia adalah milik bangsa Indonesia, bukan Belanda.

Beliau membuang kesempatan untuk hidup bergelimang harta bermodalkan ilmu yang dimiliki. Beliau mempertaruhkan kebebasan dan kesempatan untuk membangun masa depan diri sendiri demi kebebasan dan masa depan Indonesia.

Pengorbanan dan pemikiran beliau yang luar biasa semakin melejitkan namanya sebagai salah satu pemimpin Indonesia yang dikenal dan dihormati. Seiring bertambahnya usia pemikiran beliau semakin matang. Apabila dahulu beliau banyak mengeluarkan pendapat yang bertentangan dan berkonfrontasi langsung dengna pihak penjajah, ketika Jepang datang Soaekarno lebih mengedepankan negosiasi.

Hasil negoisasi tersebut membawa kemajuan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh adalah diperbolehkannya menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan pengibaran bendera Merah Putih bersama dengan bendera Jepang. Sikap Soekarno yang bermain aman dan negosiasi mungkin tidak beresiko tinggi namun dapat memperlambat usaha memerdekakan Indonesia.

Disinilah dibutuhkan kombinasi pemikiran dan pendapat dari golongan tua dan golongan muda. Soekarno sebagai salah satu golongan tua akhirnya sadar bahwa tidak selamanya perjuangan itu dilakukan hati-hati dan lambat. Dalam kondisi yang diburu waktu yaitu saat Jepang di bom atom oleh sekutu, Ketegasan dalam menentukan sikap dalam kondisi vacuum of power sangat diperlukan.

Dalam 5 tahun selanjutnya setelah proklamasi, Indonesia masih berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan. Hal tersulit sesungguhnya bukan hanya menghadapi agresi belanda dan sekutu tetapi juga menyatukan berbagai ideologi dan gologan seperti nasionalis, agama, komunis, dan sebagainya. Perpecahan mulai timbul ketika terjadi pemberontakan PKI pada tahun 1948. Soekarno dengan berat hati harus menghukum mati Musso, salah seorang sahabatnya. Dalam dunia politik terkadang perbedaan ideologi mungkin tidak menimbulkan perpecahan. Akan tetapi perasaan yang subyektif harus dihapuskan demi kepentingan bangsa.

Sehebat apapun seseorang tentunya tetap memiliki kelemhan dan kelebihan. Salah satu kelebihan Sokearno yang mendukung kelanggengan pemerintahannya adalah pesona Beliau ketika berpidato di hadapan rakyat. Namun sayang sehebat apapun pidato Soekarno, tetap tidak bisa meyakinkan rakyat mengenai masalah G30S. Pemikiran Soekarno tentang keseimbangan nasionalisme, agama, dan komunis justru menjadi bumerang bagi dirinya. Bagaimanapun PKI adalah partai yang sudah dua kali memberontak, satu terhadap pemerintahan hindia belanda dan satu terhadap NKRI. Partai ini memiliki jalan yang keras dan mendukung rencana apapun untuk mencapai tujuan mereka. Seandainya Soekarno sedikit lebih represif terhadap PKI mungkin jalan sejarah akan berbeda dan jutaan nyawa tak berdosa yang mati hanya karena disangka sebagai anggota PKI tidak perlu terjadi.

Revolusi membutuhkan pengorbanan, dan pada akhirnya Soekarno mengorbankan dirinya sendiri demi ideologinya itu. Beliau masih tetap percaya bahwa ada Pihak Luar yang ikut bermain dalam peristiwa G30S. Satu hal yang harus kita tiru dari Soekarno adalah beliau tidak pernah meminta penghormatan. Pada wawancara terkahirnya dengan wartawan Amerika beliau berkata bahwa semua yang dilakukannya adalah untuk rakyat. Sejaka masa muda hingga masa tua beliau dedikasikan untuk masa depan Indonesia. Beliau juga ikut andil dalam menstabilkan kondisi awal NKRI. Terlepas dari berbagai kelemahan beliau itu semua hanya karena perbedaan sudut pandang. Bagaimanapun tanpa proklamasi 17 Agustus 1945 mungkin NKRI tidak akan pernah ada. Indonesia akan menjadi negara yang berbeda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GUS DUR

Presiden Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau dikenal sebagai Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Selain Gus Dur, adiknya Gus Dur juga merupakan sosok tokoh nasional.

Berdasarkan silsilah keluarga, Gus Dur mengaku memiliki darah Tionghoa yakni dari keturunan Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa merupakan anak dari Putri Campa, puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V (Suara Merdeka, 22 Maret 2004).

Gus Dur sempat kuliah di Universitas Al Azhar di Kairo-Mesir (tidak selesai) selama 2 tahun dan melanjutkan studinya di Universitas Baghdad-Irak. Selesai masa studinya, Gus Dur pun pulang ke Indonesia dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada 1971. Gus Dur terjun dalam dunia jurnalistik sebagai kaum ‘cendekiawan’ muslim yang progresif yang berjiwa sosial demokrat. Pada masa yang sama, Gus Dur terpanggil untuk berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Hal ini dilakukan demi menjaga agar nilai-nilai tradisional pesantren tidak tergerus, pada saat yang sama mengembangkan pesantren. Hal ini disebabkan pada saat itu, pesantren berusaha mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah.

Karir KH Abdurrahman Wahid terus merangkak dan menjadi penulis nuntuk majalah Tempo dan koran Kompas. Artikelnya diterima dengan baik dan ia mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, membuat dia harus pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempat Wahid tinggal bersama keluarganya.

Meskipun memiliki karir yang sukses pada saat itu, Gus Dur masih merasa sulit hidup hanya dari satu sumber pencaharian dan ia bekerja untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk digunakan pada bisnis Es Lilin istrinya (Barton.2002. Biografi Gus Dur, LKiS, halaman 108)

Sakit Bukan Menjadi Penghalang Mengabdi

Pada Januari 1998, Gus Dur diserang stroke dan berhasil diselamatkan oleh tim dokter. Namun, sebagai akibatnya kondisi kesehatan dan penglihatan Presiden RI ke-4 ini memburuk. Selain karena stroke, diduga masalah kesehatannya juga disebabkan faktor keturunan yang disebabkan hubungan darah yang erat diantara orangtuanya.

Dalam keterbatasan fisik dan kesehatnnya, Gus Dur terus  mengabdikan diri untuk masyarakat dan bangsa meski harus duduk di kursi roda. Meninggalnya Gus Dur pada 30 Desember 2009 ini membuat kita kehilangan sosok guru bangsa. Seorang tokoh bangsa yang berani berbicara apa adanya atas nama keadilan dan kebenaran dalam kemajemukan hidup di nusantara.

Selama hidupnya, Gus Dur mengabdikan dirinya demi bangsa. Itu terwujud dalam pikiran dan tindakannya hampir dalam sisi dimensi eksistensinya. Gus Dur lahir dan besar di tengah suasana keislaman tradisional yang mewataki NU, tetapi di kepalanya berkobar pemikiran modern. Bahkan dia dituduh terlalu liberal dalam pikiran tentang keagamaan. Pada masa Orde Baru, ketika militer sangat ditakuti, Gus Dur pasang badan melawan dwi fungsi ABRI. Sikap itu diperlihatkan ketika menjadi Presiden dia tanpa ragu mengembalikan tentara ke barak dan memisahkan polisi dari tentara.

Setelah tidak lagi menjabat presiden, Gus Dur kembali ke kehidupannya semula. Kendati sudah menjadi partisan, dalam kapasitasnya sebagai deklarator dan Ketua Dewan Syuro PKB, ia berupaya kembali muncul sebagai Bapak Bangsa. Seperti sosoknya sebelum menjabat presiden. Meski ia pernah menjadi Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), sebuah  organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan anggota sekitar 38 juta orang. Namun ia bukanlah orang yang sektarian. Ia seorang negarawan. Tak jarang ia menentang siapa saja bahkan massa pendukungnya sendiri dalam menyatakan suatu kebenaran.  Ia seorang tokoh muslim yang berjiwa kebangsaan.

“Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”
-Gus Dur- (diungkap kembali oleh Hermawi Taslim)

Dalam komitmennya yang penuh terhadap Indonesia yang plural, Gus Dur muncul sebagai tokoh yang sarat kontroversi. Ia dikenal sebagai sosok pembela yang benar. Ia berani berbicara dan berkata yang sesuai dengan pemikirannya yang ia anggap benar, meskipun akan berseberangan dengan banyak orang. Apakah itu kelompok minoritas atau mayoritas. Pembelaannya kepada kelompok minoritas dirasakan sebagai suatu hal yang berani. Reputasi ini sangat menonjol di tahun-tahun akhir era Orde Baru. Begitu menonjolnya peran ini sehingga ia malah dituduh lebih dekat dengan kelompok minoritas daripada komunitas mayoritas Muslim sendiri. Padahal ia adalah seorang ulama yang oleh sebagian jamaahnya malah sudah dianggap sebagai seorang wali.

Karir Organisasi NU

Pada awal  1980-an, Gus Dur terjun mengurus Nahdlatul Ulama (NU) setelah tiga kali ditawarin oleh kakeknya. Dalam beberapa tahun, Gus Dur berhasil mereformasi tubuh NU sehingga membuat namanya semakin populer di kalangan NU. Pada Musyawarah Nasional 1984, Gus Dur didaulat sebagai Ketua Umum NU. Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekular.

Selama memimpin organisasi massa NU, Gus Dur dikenal kritis terhadap pemerintahan Soeharto.  Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan mengulang pernyataan dukungan NU terhadap Pancasila. Wahid merencanakan acara itu dihadiri oleh paling sedikit satu juta anggota NU. Namun, Soeharto menghalangi acara tersebut, memerintahkan polisi untuk mengembalikan bus berisi anggota NU ketika mereka tiba di Jakarta. Akan tetapi, acara itu dihadiri oleh 200.000 orang. Setelah acara, Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran.

Menjelang Munas 1994, Gus Dur menominasikan dirinya untuk masa jabatan ketiga. Mendengar hal itu, Soeharto ingin agar Wahid tidak terpilih. Pada minggu-minggu sebelum Munas, pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur. Ketika musyawarah nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga ketat oleh ABRI dalam tindakan intimidasi. Terdapat juga usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya. Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU untuk masa jabatan ketiga. Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Megawati yang menggunakan nama ayahnya memiliki popularitas yang besar dan berencana tetap menekan rezim Soeharto.

Menjadi Presiden RI ke-4

Pada Juni 1999, partai PKB ikut serta dalam arena pemilu legislatif. PKB memenangkan 12% suara dengan PDI-P memenangkan 33% suara. Dengan kemenangan partainya, Megawati memperkirakan akan memenangkan pemilihan presiden pada Sidang Umum MPR. Namun, PDI-P tidak memiliki mayoritas penuh, sehingga membentuk aliansi dengan PKB. Pada Bulan Juli, Amien Rais membentuk Poros Tengah, koalisi partai-partai Muslim. Poros Tengah mulai menominasikan Gus Dur sebagai kandidat ketiga pada pemilihan presiden dan komitmen PKB terhadap PDI-P mulai berubah.

Pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie dan ia mundur dari pemilihan presiden. Beberapa saat kemudian, Akbar Tanjung, ketua Golkar dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali berkumpul dan mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara.

Tidak senang karena calon mereka gagal memenangkan pemilihan, pendukung Megawati mengamuk dan Gus Dur menyadari bahwa Megawati harus terpilih sebagai wakil presiden. Setelah meyakinkan jendral Wiranto untuk tidak ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan membuat PKB mendukung Megawati, Gus Dur pun berhasil meyakinkan Megawati untuk ikut serta. Pada 21 Oktober 1999, Megawati ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan mengalahkan Hamzah Haz dari PPP.

Pengabdian Sebagai Presiden RI ke-4

Pasca kejatuhan rezim Orde Baru pada 1998, Indonesia mengalami ancaman disintegrasi kedaulatan negara. Konflik meletus dibeberapa daerah dan ancaman separatis semakin nyata. Menghadapi hal itu, Gus Dur melakukan pendekatan yang lunak terhadap daerah-daerah yang berkecamuk. Terhadap Aceh, Gus Dur memberikan opsi  referendum otonomi dan bukan kemerdekaan seperti referendum Timor Timur.  Pendekatan yang lebih lembut terhadap Aceh dilakukan Gus Dur dengan mengurangi jumlah personel militer di Negeri Serambi Mekkah tersebut.  Netralisasi  Irian Jaya, dilakukan Gus Dur pada 30 Desember 1999 dengan mengunjungi ibukota Irian Jaya. Selama kunjungannya, Presiden Abdurrahman Wahid berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.

Sebagai seorang Demokrat saya tidak bisa menghalangi keinginan rakyat Aceh untuk menentukan nasib sendiri. Tetapi sebagai seorang republik, saya diwajibkan untuk menjaga keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia.
(Presiden Abdurrahman Wahid dalam wawancara dengan Radio Netherland)

Pada pemerintahan Gus Dur, pembicaraan damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Indonesia menjadi terbuka. Padahal, sebelumnya, pembicaraan dengan GAM sesuatu yang tabu, sehingga peluang perdamaian seperti ditutup rapat, apalagi jika sampai mengakomodasi tuntutan kemerdekaan. Saat sejumlah tokoh nasional mengecam pendekatannya untuk Aceh, Gus Dur tetap memilih menempuh cara-cara penyelesaian yang lebih simpatik: mengajak tokoh GAM duduk satu meja untuk membahas penyelesaian Aceh secara damai. Bahkan, secara rahasia, Gus Dur mengirim Bondan Gunawan, Pjs Menteri Sekretaris Negara, menemui Panglima GAM Abdullah Syafii di pedalaman Pidie. Di masa Gus Dur pula, untuk pertama kalinya tercipta Jeda Kemanusiaan.

Selain usaha perdamaian dalam wadah NKRI, Gus Dur disebut sebagai pionir dalam mereformasi militer agar keluar dari ruang politik. Dibidang pluralisme, Gus Dur menjadi Bapak “Tionghoa” Indonesia.  Dialah tokoh nasional yang berani membela orang Tionghoa untuk mendapat hak yang sama sebagai warga negara.  Pada tanggal 10 Maret 2004, beberapa tokoh Tionghoa Semarang memberikan penghargaan KH Abdurrahman Wahid sebagai “Bapak Tionghoa”. Hal ini tidak lepas dari jasa Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional yang kemudian diperjuangkan menjadi Hari Libur Nasional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa. Dan atas jasa Gus Dur pula akhirnya pemerintah mengesahkan Konghucu sebagai agama resmi ke-6 di Indonesia.

Selain berani membela hak minoritas etnis Tionghoa, Gus Dur juga merupakan pemimpin tertinggi Indonesia pertama yang menyatakan permintaan maaf kepada para keluarga PKI yang mati dan disiksa (antara 500.000 hingga 800.000 jiwa) dalam gerakan pembersihan PKI oleh pemerintahan Orde Baru. Dalam hal ini, Gus Dur memang seorang tokoh pahlawan anti diskriminasi. Dia menjadi inspirator pemuka agama-agama untuk melihat kemajemukan suku, agama dan ras di Indonesia sebagian bagian dari kekayaan bangsa yang harus dipelihara dan disatukan sebagai kekuatan pembangunan bangsa yang besar.

Dalam kapasitas dan ‘ambisi’-nya, Presiden Abdurrahman Wahid sering melontarkan pendapat kontroversial. Ketika menjadi Presiden RI ke-4, ia tak gentar mengungkapkan sesuatu yang diyakininya benar kendati banyak orang sulit memahami dan bahkan menentangnya. Kendati suaranya sering mengundang kontroversi, tapi suara itu tak jarang malah menjadi kemudi arus perjalanan sosial, politik dan budaya ke depan. Dia memang seorang yang tak gentar menyatakan sesuatu yang diyakininya benar. Bahkan dia juga tak gentar menyatakan sesuatu yang berbeda dengan pendapat banyak orang. Jika diselisik, kebenaran itu memang seringkali tampak radikal dan mengundang kontroversi.

Kendati pendapatnya tidak selalu benar — untuk menyebut seringkali tidak benar menurut pandangan pihak lain — adalah suatu hal yang sulit dibantah bahwa banyak pendapatnya yang mengarahkan arus perjalanan bangsa pada rel yang benar sesuai dengan tujuan bangsa dalam Pembukaan UUD 1945. Bagi sebagian orang, pemikiran-pemikiran Gus Dur sudah terlalu jauh melampui zaman. Ketika ia berbicara pluralisme diawal diawal reformasi, orang-orang baru mulai menyadari pentingnya semangat pluralisme dalam membangun bangsa yang beragam di saat ini.

Dan apabila kita menilik pada pemikirannya, maka akan kita dapatkan bahwa sebagian besar pendapatnya jauh dari interes politik pribadi atau kelompoknya. Ia berani berdiri di depan untuk kepentingan orang lain atau golongan lain yang diyakninya benar. Malah sering seperti berlawanan dengan suara kelompoknya sendiri. Juga bahkan ketika ia menjabat presiden, sepertinya jabatan itu tak mampu mengeremnya untuk menyatakan sesuatu. Sepertinya, ia melupakan jabatan politis yang empuk itu demi sesuatu yang diyakininya benar. Sehingga saat ia menjabat presiden, banyak orang menganggapnya aneh karena sering kali melontarkan pernyataan yang mengundang kontroversi.

Belum satu bulan menjabat presiden, Gus Dur sudah mencetuskan pendapat yang memerahkan kuping sebagian besar anggota DPR. Di hadapan sidang lembaga legislatif, yang anggotanya sekaligus sebagai anggota MPR, yang baru saja memilihnya itu, Gus Dur menyebut para anggota legislatif itu seperti anak Taman Kanak-Kanak.

Selama menjadi Presiden RI itu, Gus Dur mendapat kritik karena seringnya melakukan kunjungan ke luar negeri sehingga dijuliki “Presiden Pewisata“. Pada tahun 2000, muncul dua skandal yang menimpa Presiden Gus Dur yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate. Pada bulan Mei 2000, BULOG melaporkan bahwa $4 juta menghilang dari persediaan kas Bulog. Tukang pijit pribadi Gus Dur mengklaim bahwa ia dikirim oleh Gus Dur ke Bulog untuk mengambil uang. Meskipun uang berhasil dikembalikan, musuh Gus Dur menuduhnya terlibat dalam skandal ini. Pada waktu yang sama, Gus Dur juga dituduh menyimpan uang $2 juta untuk dirinya sendiri. Uang itu merupakan sumbangan dari Sultan Brunei untuk membantu di Aceh. Namun, Gus Dur gagal mempertanggungjawabkan dana tersebut. Skandal ini disebut skandal Bruneigate.

Dua skandal “Buloggate” dan “Brunaigate” menjadi senjata bagi para musuh politik Gus Dur untuk menjatuhkan jabatan kepresidenannya. Pada 20 Juli, Amien Rais menyatakan bahwa Sidang Istimewa MPR akan dimajukan pada 23 Juli. TNI menurunkan 40.000 tentara di Jakarta dan juga menurunkan tank yang menunjuk ke arah Istana Negara sebagai bentuk penunjukan kekuatan. Gus Dur kemudian mengumumkan pemberlakuan dekrit yang berisi (1) pembubaran MPR/DPR, (2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun, dan (3) membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR. Namun dekrit tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli, MPR secara resmi memberhentikan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri.

Itulah akhir perjalanan Gus Dur menjadi Presiden selama 20 bulan. Selama 20 bulan memimpin, setidaknya Gus Dur telah membantu memimpin bangsa untuk berjalan menuju proses reformasi yang lebih baik. Pemikiran dan kebijakannya yang tetap mempertahankan NKRI dalam wadah kemajukan berdemokrasi sesuai dengan UUD 1945 dan Pancasila merupakan jasa yang tidak terlupakan.

Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari sosok Gus Dur. Yang paling terlihat adalah bagaimana Beliau begitu memperjuangkan kebenaran dan rasa saling menghargai perbedaan dengna taruhan nyawa dan jabatannya. Sifat keras kepala yang terkadang dibutuhkan untuk menghadapi suara golonga-golongan tertentu yang egois.

Mantan Ketua DPP PKB, Hermawi Taslim yang selama 10 tahun terakhir turut bersama Gus Dur dalam segala aktivitasnya mengungkapkan tiga prinsip dalam hidup Gus Dur yang selalu ia sampaikan kepada orang-orang terdekatnya.

  • Pertama :  Akan selalu berpihak pada yang lemah.
  • Kedua : Anti-diskriminasi dalam bentuk apa pun.
  • Ketiga : Tidak pernah membenci orang, sekalipun disakiti.

Gus Dur merupakan salah tokoh bangsa yang berjuang paling depan melawan radikalisme agama. Ketika radikalisme agama sedang kencang-kencangnya bertiup, Gus Dur menantangnya dengan berani. Dia bahkan mempersiapkan pasukan sendiri bila harus berhadapan melawan kekerasan yang dipicu agama. Gus Dur menentang semua kekerasan yang mengatasnamakan agama. Dia juga pejuang yang tidak mengenal hambatan.

Gus Dur dalam pemerintahannya telah menghapus praktik diskriminasi di Indonesia. Tak berlebihan kiranya bila negara dan rakyat Indonesia memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas darma dan baktinya. Layaknya kiranya Gus Dur mendapat penghargaan sebagai Bapak Pluralisme dan Demokratisasi di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MAHMOUD AHMADINEJAD

Mahmoud Ahmadinejad dikenal sebagai salah satu pemimpin yang mempunyai kesederhanaan. Mahmoud Ahmadinejad atau bisa dibaca Ahmadinezhad dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1956. Ia adalah mantan Presiden Iran yang keenam. Jabatan kepresidenannya dimulai pada 3 Agustus 2005. Ia pernah menjabat walikota Teheran dari 3 Mei 2003 hingga 28 Juni 2005 sewaktu ia terpilih sebagai presiden. Ia dikenal secara luas sebagai seorang tokoh konservatif yang mempunyai pandangan Islamis. Lahir di desa pertanian Aradan, dekat Garmsar, sekitar 100 km dari Teheran, sebagai putra seorang pandai besi, keluarganya pindah ke Teheran saat dia berusia satu tahun. Dia lulus dari Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) dengan gelar doktor dalam bidang teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportasi.

Kehidupan  Mahmoud Ahmadinejad pada tahun 1980 adalah sebagai ketua perwakilan IUST untuk perkumpulan mahasiswa, dan terlibat dalam pendirian Kantor untuk Pereratan Persatuan (daftar-e tahkim-e vahdat), organisasi mahasiswa yang berada di balik perebutan Kedubes Amerika Serikat yang mengakibatkan terjadinya krisis sandera Iran.

Pada masa Perang Iran-Irak, Ahmedinejad bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam pada tahun 1986. Dia terlibat dalam berbagai misi di Kirkuk, Irak. Dia kemudian menjadi insinyur kepala pasukan keenam Korps dan kepala staf Korps di sebelah barat Iran. Setelah perang, dia bertugas sebagai wakil gubernur dan gubernur Maku dan Khoy, Penasehat Menteri Kebudayaan dan Ajaran Islam, dan gubernur provinsi Ardabil dari 1993 hingga Oktober 1997.

Ahmadinejad lalu terpilih sebagai walikota Teheran pada Mei 2003. Dalam masa tugasnya, dia mengembalikan banyak perubahan yang dilakukan walikota-walikota sebelumnya yang lebih moderat dan reformis, dan mementingkan nilai-nilai keagamaan dalam kegiatan-kegiatan di pusat-pusat kebudayaan. Selain itu, dia juga menjadi semacam manajer dalam harian Hamshahri dan memecat sang editor, Mohammad Atrianfar pada 13 Juni 2005, beberapa hari sebelum pemilu presiden, karena tidak mendukungnya dalam pemilu tersebut.

Presiden Mohammad Khatami pernah melarangnya menghadiri pertemuan Dewan Menteri, suatu hak yang biasa diberikan kepada para walikota Teheran. Hal ini dikarenakan pada waktu Khatami menuju Universitas Teheran, Khatami terjebak macet. Khatami mengkritik Ahmadinejad yang saat itu menjabat walikota Teheran. Namun bukannya tergesa-gesa membereskan masalah tersebut, Ahmadinejad justru berkata: “Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya”. Ahmadinejad tetap santai menghadapi larangan tersebut.

Sifatnya yang sederhana ini masih terlihat saat Ahmadinejad terpilih menjadi Presiden. Karpet-karpet merah persia mahal dikeluarkan semua dari istana, menolak mobil limosine dan tetap setia menggunakan mobil tuanya serta tetap tinggal di rumah susunnya. Selain sifatnya yang sederhana ia dicintai karena lebih mementingkan memperbaiki ekonomi negara ketimbang bidang-bidang lain dan memperjuangkan setiap pendapatan minyak bumi agar jatuh ke meja makan rakyat Iran. Ahmadinejad memberi salam hormat kepada Ayatollah Khamenei setelah dua tahun sebagai walikota Teheran, Ahmadinejad lalu terpilih sebagai presiden baru Iran. Tak lama setelah terpilih, pada 29 Juni 2005, sempat muncul tuduhan bahwa ia terlibat dalam krisis sandera Iran pada tahun 1979. Iran Fokus mengklaim bahwa sebuah foto yang dikeluarkannya menunjukkan Ahmadinejad sedang berjalan menuntun para sandera dalam peristiwa tersebut, namun tuduhan ini tidak pernah dapat dibuktikan.

Ahmadinejad terkenal dengan kesederhanaannya dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai personal maupun sebagai seorang Presiden Iran. Dalam sebuah sesi wawancara bersama wartawan TV Fox dari Amerika, terungkaplah sisi-sisi menakjubkan dari seorang Ahmadinejad, kehidupannya yang sangat sederhana menjadi sangat membanggakan jika kita bandingkan dengan kehidupan para pejabat di negeri kita sendiri, Indonesia. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa engan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran.

Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu-satunya uang yang masuk adalah uang gaji bulanannya sebagai dosen di sebuah universitas yang hanya senilai US$ 250. Selama menjabat sebagai Presiden Iran, Ia tinggal di rumahnya sendiri. Ia tidak mengambil gajinya sebagai Presiden, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

Sang presiden selalu membawa tas setiap hari yang berisikan sarapan seperti  roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira,ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden. Selain itu, hal lain yang ia ubah adalah kebijakan pesawat terbang Kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan peswat rerbang biasa dengan kelas ekonomi..

Ia juga memangkas protokoler istana sehingga menteri-menterinya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara-upacara seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal-hal seperti itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya. Presiden Iran ini kerap tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal-pengawalnya yg selalu mengikuti ke manapun ia pergi.

Apa yang bisa kita pelajari dari Ahmadinejad bukan hanya tentang sifat dan karakternya yang sederhana, tapi juga pemikirannya yang luar biasa. Sebagai seorang politikus Beliau memiliki berbagai pandangan terhadap berbagai bidang kehidupan. Beberapa pemikiran beliau adalah sebagai berikut:

  1. Pemikiran Politik Mahmoud Ahmadinejad Tentang Keadilan

Menurut pemikiran Ahmadinejad dalam blog pribadinya berjudul Greetings to you all dan pidato berjudul “Tenggelamnya Imperatur, Terbitnya Keadilan Universal” di universitas Colombia pada tahun 2006 tentang konsep keadilan hanya akan terealisasi dengan baik oleh pemimpin dan sistem pemerintahan yang baik. Pemikiran-pemikiran materialistik yang berkembang di dunia  ini  telah  menemui  jalan  buntu.  Dunia  yang  tidak  beraturan  tersebut membutuhkan    sebuah    paham    kemanusiaan    dan    keselamatan    dengan berpedoman dari keadilan yang bersumber dari Islam (Ahmadinejad, 2012).

Dalam tulisan berjudul “Dimulainya Era Pemikiran Berlandaskan Tauhid, Cinta, Keadilan dan Perdamaian” Ahmadinejad menjelaskan bahwa sejarah umat manusia yang mendengar seruan Allah akan mencari kebebasan dan kemerdekaan pada saat kondisi menutupinya dengan sisi kemanusiaan yang lain. Kemenangan dan keadilan yang dirasakan masyarakat Iran adalah hasil revolusi melawan suatu otoritas kekuatan yang dominan didukung dengan segala kelengkapan atribut ketidakadilan. Kemenangan bangsa Iran merupakan kemenangan kodrati Illahi yang murni melalui manusia sebagai simbol keinginan yang merindukan tauhid, kemurnian, keadilan, perdamaian, kebaikan dan martabat. Sifat dan sikap materialisme yang dianut Barat telah gagal karena pengaruh duniawi menghalalkan manusia menggunakan berbagai macam cara (Ahmadinejad, 2009).

Iran memiliki tanggung jawab besar dan berat untuk mempertahankan nilai, prinsip dan ajaran yang diadopsi oleh Revolusi Islam. Bangsa Iran harus menjadi teladan bagi seluruh bangsa di dunia dalam hal moralitas, ekonomi, diplomasi, arsitektur, hukum, hubungan sosial, tata kota, ilmu pengetahuan dan teknologi (Ahmadinejad, 2007).

  1. Pemikiran Politik Mahmoud Ahmadinejad Tentang Pemerataan

Sesuai  janji  politik  untuk  memerangi  korupsi  dan  mengedepankan rakyat, Ahmadinejad dikenal keras dan tajam mengkritik para elit politik yang hidup bermewah-mewahan menerapkan PPN pada sejumlah kekayaan dan usaha. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan pengajaran kepada golongan atas  agar  lebih  peka  terhadap  masyarakat  lain  yang  masih  membutuhkan. Kritikan Ahmadinejad dutujukan kepada presiden Iran sebelumnya, Khatami dan Rafsanjani sebagai presiden yang tidak mengerti kebutuhan rakyat dan hanya mementingkan kepentingan golongan kelompok tertentu. Untuk dapat membuat kebijakan yang tepat, seorang pemimpin harus berada sama rata dengan kondisi yang dialami masyarakat agar dapat merasakan apa yang dirasakan rakyat dan mengerti apa yang dibutuhkan rakyat (Ar Rusydi, 2007).

Menurut pandangan Ahmadinejad, golongan-golongan tertindas dalam negeri Iran adalah mayarakat mayoritas yang terdiri dari kaum menengah ke bawah. Allah telah mengajarkan konsep pemerataan dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 285 dengan memberikan perlakuan yang adil kepada nabi-nabi- Nya. Hal tersebut menjadi dasar pemikiran presiden untuk membuat kebijakan yang lebih memperhatikan masyarakat miskin Iran. Keadilan dalam pemerataan bukan berarti memberikan porsi yang sama. Pemerataan menurut Ahmadinejad adalah memberi sesuai kebutuhan, namun pemberian tersebut sampai kepada seluruh rakyat tanpa terkecuali dengan tetap tidak memberatkan ataupun memihak kaum atau golongan kepentingan tertentu (Ahmadinejad, 2006).

  1. Pemikiran Politik Mahmoud Ahmadinejad Tentang Kebebasan

Kebebasan   menurut pemikiran Ahmadinejad adalah ketika kita bisa menghargai hak dan kewajiban yang dimiliki oleh suatu negara atas negara lain. Amerika dan Israel berhak memiliki senjata nuklir dan mengembangkan nuklir untuk tujuan militer, namun Iran dilarang mengembangkan nuklir untuk tujuan memproduksi listrik. Kebebasan adalah sebuah hak yang seharusnya dimiliki masyarakat Palestina yang telah menderita selama puluhan tahun menanggung apa  yang  tidak  mereka  lakukan.  Kebebasan  berpikir  telah  dijamin  terutama terkait sesuatu yang berhubungan dengan kemajuan riset, penelitian, ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebebasan berpikir dan berpendapat telah Allah ajarkan dalam Al Quran surat An Naml 64. Allah telah memberikan kebebasan untuk mencari bukti kebenaran yang saat ini dihalangi oleh negara-negara berkepentingan (Ahmadienjad, 2009).

Kebebasan merupakan isu yang paling banyak menyita ruang pemikiran dan gerak manusia di sepanjang sejarah. Kebebasan adalah hak seseorang untuk bertindak, berkespresi dan menyampaikan aspirasi maupun pendapatnya yang diiringi dengan jaminan keamanan. Kebebasan mendorong perilaku logis, rasional, damai, etis, berkeadilan, memenuhi kewajiban, makmur, melayani manusia, menghormati martabat manusia, dan maju (Ahmadinejad, 2007).

  1. Pemikiran Politik Mahmoud Ahmadinejad Tentang Demokrasi

Demokrasi   membagi   kekuasaan   politik   (eksekutif,   legislatif,   dan yudikatif) untuk saling mengawasi dan mengontrol satu dengan yang lain berdasarkan prinsip Check and Balance. Keterkaitan Syiah dan politik didasarkan pada kondisi nabi Muhammad sebagai pemimpin agama sekaligus terjun dalam bidang politik (Engineer, 2002).

Dalam blog pribadinya berjudul Exceptional Relationship Ahmadinejad menjelaskan sistem imamah hanya berlaku pada zaman para imam (keturunan

Ali) masih hidup. Setelah Khomeini berhasil memimpin Revolusi 1979, kalangan Syiah Iran   mulai mengenal konsep Wilayat al-Fakih (kekuasaan pada faqih). Dengan konsep baru hasil pemikiran Khomeini inilah yang mengawali babak baru sistem pemerintahan Iran yang dinilai cukup demokratis dengan tetap menggunakan Islam sebagai dasar negara. Mazhab politik Syiah mengarah pada theokrasi. Iran menganut sistem demokrasi barat namun masih menggunakan Al Quran sebagai Undang-undang dan hukum tertinggi dengan dogma-dogma yang tidak bisa ditinggalkan. Disisi lain, Iran juga menilai suara rakyat sebagai suara Tuhan dengan otoritas dibawah Al Quran (Ahmadinejad, 2006).

 

 

Beberapa gambaran kesederhanaan Mahmoud Ahmadinejad adalah sebagai berikut:

  1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.
  2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.
  3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.
  4. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri-menteri beliau untuk datang kepadanya dan menteri-menteri tersebut akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan-arahan darinya. Arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri-menteri beliau untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri-menteri tersebut berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.
  5. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu-satunya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.
  6. Gaji beliau sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.
  7. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimiliki Ahmadinejad, seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan. Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.
  8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.
  9. Hal lain yang ia rubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.
  10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri-menterinya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sdh dilakukan, dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri-menterinya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal-hal seperti itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.

Kesederhanaan sebagai seorang pemimpin adalah salah satu hal yang paling terlihat dari sosok Ahmadinejad. Beliau benar-benar mengaplikasikan konsep bahwa pemimpin itu melayani bukan dilayani. Pada akhirnya dibutuhkan lebih banyak lagi pemimpin seperti Ahmadinejad terutama di Indonesia agar pemerintahan Indonesia bisa benar-benar bekerja dan melayani rakyat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia: Biography as told Cindy Adams. https://serbasejarah.files.wordpress.com/…/penyambung-lidah-rakyat_-soekarno.pdf  (Diakses pada 16 April 2017, pukul 12.00)

Cenne, Arifandi A.2016 . Pemikiran Politik Soekarno tentang Nasakom: Rentang 1959-1966. Makassar: Universitas Hassanudin.

Hassan, Hussein D.2008 . Iran: Profile of President Mahmoud Ahmadinejad. Congressional Research Service : The Library of Congress.

Ismail, Otto. 2012. Biografi Presiden Soekarno. mukinews.com/tokoh/298-biografi-presiden-soekarno.pdf  (Diakses pada 15 April 2017, pukul 18.30)

Lestari, Menik, dan Tri yuniyanto. 2015. Jurnal Mahmoud Ahmadinejad: Studi Pemikiran dan Dampak Pemikiran Politik Tahun 2005-2012. Surakarta: Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP UNS.

Marwati, Anisa. 2012. Soekarno dan Soeharto dalam Arsitektur. Depok: Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.

Ogie, Irvan. 2009. Biografi Gus Dur. www.warungbebas.com (Diakses pada 14 April 2017, pukul 13.50)

http://www.biografiku.com/2010/01/biografi-kyai-haji-abdurrahman-wahid.html

http://bio.or.id/biografi-kyai-haji-abdurrahman-wahid/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *