Perilaku Hidup Sehat Sebagai Mahasiswa, Bahaya Narkoba dan Merokok

 

Mahasiswa adalah generasi muda bangsa yang sangat diharapkan memiliki kualitas untuk memimpin negara di masa depan. Namun jika sejak muda sudah memiliki berbagai masalah kesehatan maka potensi yang ada dalam setiap diri mahasiswa tidak dapat berkembang secara maksimal. Seringkali mahasiswa hanya berfikir tentang bagaimana menjadi yang terbaik di akademik, atau paling berkontribusi di organisasi, tanpa memperhatikan kesehatan. Dua hal yang paling sederhana adalah bagaiman pola makan dan tidur mahasiswa yang tidak teratur. Seringkali kita mendengar tentang ungkapan bahwa terdapat 3 utama yang dikerjakan oleh mahasiswa yaitu akademik, organisasi, dan istirahat (tidur). Banyak yang mengutamakan dua hal pertama dan mengecilkan peran istirahat dengan dalih masih muda harus banyak organisasi agar dapat link dan dapat mengembangkan diri. Disamping organisasi juga harus belajar agar IPK bagus dan memenuhi syarat beasiswa.

Saya pernah mendapat nasehat dari ibu. “Tidak ada guna kamu pintar ( Sukses Akademik ) dan Banyak teman ( Organisasi ) kalau kamu sakit. Apakah kepintaranmu akan mengobatimu? Apakah temanmu akan mengobatimu? Okelah mungkin mereka akan menjengukmu satu dua kali tapi sebagian besar waktu dan biaya siapa yang akan menanggung? Pada akhirnya keluargamu sendiri. Karena itu jangan korbankan dirimu sendiri demi 2 hal yang belum tentu membantumu hingga tuntas.” Menurut saya pendapat yang dikemukakan oleh ibu saya seakan kita ini egois namun sebenarnya tidak. Saya dianjurkan untuk tidak lupa istirahat dan berolahraga, menjaga pola makan, dan melakukan semuanya dengan teratur. Kalau kita sakit siapa yang akan menanggung? Keluarga kita pastinya. Dengan kata lain apa yang kita anggap sebagai tindakan yang tidak egois sesungguhnya adalah tindakan egois kita terhadap keluarga. Sebelum kita memberikan banyak hal bagi orang lain terlebih dahulu kita harus memberikan sesuatu pada keluarga kita. Ingat balas budi terhadap kedua orang tua, itu adalah yang pertama kali harus dilakukan.

Apabila di awal ini kita sudah membahas tentang apa yang biasa dilakukan oleh mahasiswa normal dan baik-baik maka saat ini kita membahas tentang yang tidak baik yaitu bahaya merokok dan narkoba. Apabila dilihat dari jumlahnya sebenarnya persentase mahasiswa yang merokok jauh lebih besar daripada yang memakai narkoba. Sebagai contoh di angkatan penulis sendiri bisa dibilang 30-40 dari 90 mahasiswa laki-laki adalah perokok. Namun penulis belum menemukan teman yang memakai narkoba. Bukan maksud untuk menjelekkan namun biasanya di jurusan yang tidak sibuk apalagi yang universitasnya tidak terlalu bagus maka jumlah perokok akan bertambah lebih banyak. Untuk narkoba sulit dideteksi karena apabila ketahuan secara umum akan beresiko penjara, berbeda dengan merokok.

Pertama masri kita membahas tentang narkoba. Narkoba atau Narkotika dan Obat-obatan terlarang (NARKOBA) atau Narkotik, Psikotropika, dan Zat Aditif (NAPZA) adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi seseorang (pikiran, perasaan dan perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi.

Narkotika menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika, yaitu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Psikotropika yaitu zat atau obat, baik alami maupun sintesis bukan narkotik yang berkhasia psikoaktif melalui pengaryh selektif pada susunan saraf dan menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.

Di bawah ini  merupakan jenis – jenis narkoba Antara lain :

  1. Opium (Heroin, Morfin)

Berasal dari kata opium, jus dari bunga opium. Opium disaripatikan dari opium poppy (papaver somniferum) dan disuling untuk membuat morfin, kodein, dan heroin. Opium digunakan berabad-abad sebagai penghilang rasa sakit (mencegah batuk, diare, dll).

Gejala gejala yang ditimbulkan dari penggunaan opium :

  1. Perasaan tenang dan bahagia
  2. Acuh tak acuh (apatis)
  3. Malas bergerak
  4. Mengantuk
  5. Rasa mual
  6. Bicara cadel
  7. Pupil mata mengecil (melebar jika overdosis)
  8. Gangguan perhatian/daya ingat
  9. Ganja

Ganja dikenal dapat memicu psikosis, terutama bagi mereka yang memiliki latar belakang (gen). Ganja juga bisa memicu dan mencampuradukkan antara kecemasan dan depresi

Gejala yang ditimbulkan dari penggunaan ganja:

  1. Rasa senang dan bahagia
  2. Santai dan lemah
  3. Acuh tak acuh
  4. Mata merah
  5. Nafsu makan meningkat
  6. Mulut kering
  7. Pengendalian diri dan konsentrasi kurang
  8. Depresi dan sering menguap/mengantuk

 

  1. Amfetamin (shabu, ekstasi

Ecstasy (methylen dioxy methamphetamine)/MDMA adalah salah satu jenis narkoba yang di buat secara ilegal di sebuah laboratorium dalam bentuk tablet. Ekstasi akan mendorong tubuh untuk melakukan aktivitas yang melampaui batas maksimum dari kekuatan tubuh itu sendiri. Kekurangan cairan tubuh dapat terjadi sebagai akibat dari pengerahan tenaga yang tinggi dan lama, yang sering menyebabkan kematian.

Gejala-gejala dari penggunaan amfetamin:

  1. Kewaspadaan meningkat
  2. Bergairah
  3. Rasa senang/bahagia
  4. Pupil mata melebar
  5. Denyut nadi dan  tekanan darah meningkat
  6. Susah tidur/insomnia
  7.    Hilang nafsu makan

 

  1. Kokain

Kokain adalah salah satu zat adiktif yang sering disalahgunakan. Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari tanaman belukar Erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan, dimana daun dari tanaman belukar ini biasanya dikunyah-kunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan efek stimulan, seperti untuk meningkatkan daya tahan, stamina, mengurangi kelelahan, rasa lapar dan untuk memberikan efek euforia.

Gejala yang ditimbulkan dari penggunaan kokain:

  1. Gelisah dan denyut nadi meningkat
  2. Euforia/rasa gembira berlebihan
  3. Banyak bicara dan kewaspadaan meningkat
  4. Kejang dan tekanan darah meningkat
  5. Berkeringat dan mudah berkelahi
  6. Penyumbatan pembuluh darah
  7. Distonia (kekakuan otot leher)

 

Penyalahgunaan Narkoba

Bahaya penyalahgunaan narkoba sangat besar, bukan hanya merusak tubuh, tetapi juga masa depan. Penyalahgunaan narkoba mengakibatkan rusaknya organ tubuh selain itu juga menimbulkan penyakit yang berbahaya sulit untuk di sembuhkan, seperti kanker, paru-paru rusak, HIV/AIDS, hepatitis, bahkan penyakit jiwa. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah saat si pengguna mulai melakukan tindakan apapun meski sudah termasuk kriminalitas demi mendapat narkoba. Misal dengan mencuri, membunuh, merampok, mencopet, dan sebagainya.

 

FAKTOR PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NARKOBA

Faktor yang mendorong

  1. Pengendalian diri yang lemah sehingga tidak mampu menghadapi godaan yang seringkali diawali dari teman
  2. Kondisi kehidupan keluarga yang buruk akan membuat komunikasi tidak berjalan lancar sehingga ketika misal seorang anak ditawari narkoba dan diajak hidup rusak maka si anak akan menuruti temannya karena tidak menemukan kenyamanan dan sosok yang bisa dipercaya di keluarga. Hal ini juga berlaku bagi mahsiswa apalagi yang jauh dari keluarga. Tanpa komunikasi yang baik akan membuat mahasiswa mudah terjerumus dalam dunia hitam.
  3. Temperamen sulit dikendalikan sehingga sulit untuk dinasehati ketika berbuat hal yang tidak baik
  4. Suka menyendiri dan memberontak, hal ini berkaitan dengan komunikasi. Orang-orang yang suka menyendiri seringkali menjadi target pengedar untuk menjadi korban utama. Salah satu caranya dengan baerbuat baik seolah-olah si pengedar benar-benar tulus ingin berteman dengan si penyendiri. Apalagi bagi anak kos yang jauh dari pengawasan orang tua.
  5. Memiliki prestasi akademik yang rendah bukan berarti disebabkan melakukan tindakan yang buruk, bisa saja karena si mahasiswa memang tidak mampu mengikuti kuliah dengan baik. Namun kemungkinan lainnya adalah terlalu banyak melakukan hal buruk misal pesta narkoba, miras, sex, dsb.
  6. Tidak diterima di kelompok dan berteman dengan pemakai. Hal ini akan sangat efekti bila si korban penyendiri. Karena itulah dibutuhkan pemahaman yang baik tentang buruknya narkoba agar kita bisa menghindari teman yang mengajak kepada keburukan.

 

Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba

  1. Jangan pernah untuk mencoba-coba menggunakan narkotika, kecuali atas dasar pertimbangan medis atau dokter.

 

  1. Mengetahui akan berbagai macam dampak buruk narkoba. Hal ini dapat dilakukan dengan mempelajari jenis-jenis narkoba dan efeknya bagi tubuh.
  2. Memilih pergaulan yang baik dan jauhi pergaulan yang bisa mengantarkan kita pada penyalahgunaan narkotika. Untuk mengetahui pergaulan yang baik minimal adalah yang sesuai dengan agama atau yang banyak mengadakan kegiatan keagamaan.
  3. Memiliki kegiatan-kegiatan yang positif, berolahraga atau pun mengikuti kegiatan kegiatan organisasi yang memberikan pengaruh positif baik kepada kita.
  4. Selalu mengingatkan kepada teman dan diri sendiri bahwa ancaman hukuman untuk penyalahgunann Narkoba, apalagi bagi pengedar Narkoba adalah Lembaga Pemasyarakatan (Penjara)

 

  1. Gunakan waktu dan tempat yang aman, jangan keluyuran malam-malam. Bersantailah dengan keluarga, berkaraoke, piknik, makan bersama, masak bersama, beres-beres bersama nonton bersama keluarga.
  2. Bila mempunyai masalah maka cari jalan keluar yang baik dan jangan jadikan narkoba sebagai jalan pelarian.

 

Berikunya kita akan membahas tentang merokok. Rokok yang dulu seringkali diidentikkan dengan simbol kejantanan,bahkan pada kalangan tertentu dengan simbol kemapanan, seiring waktu semakin menunjukkan kecenderungan bergeser untuk tidak lagi menjadi simbol siapa pun atau jenis kelamin apapun. Rokok telah menjadi lebih sebagai kebutuhan yang relatif permanen daripada sekedar trend sesaat.

Merokok sebagai salah satu sumber penyakit dan kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Pada negara maju jumlah perokok mengalami penurunan dengan semakin meningkatnya kesadaran bahaya merokok, namun di negara berkembang justru mengalami kenaikan. Posisi Indonesia pada tingkat dunia adalah ketiga dalam jumlah perokok, kelima dalam jumlah batang rokok yang dikonsumsi. Jumlah pabrik rokok terbanyak mencapai 3800, sedangkan perokok usia muda semakin meningkat.
Industri rokok tidak akan pernah berhenti bergerilya mencari celah bagaimana memasyarakatkan rokok. Bahkan industri rokok sudah mulai berani untuk mencoba bekerjasama dengan perguruan tinggi misal dengan kedok memberikan sponsor terhadap suatu acara. Untuk itu, perguruan tinggi sebagai institusi pencerdasan bangsa harus dapat memulai gerakan kampus bebas rokok. Tujuan yang ingin dicapai adalah mengurangi konsumsi rokok dengan menciptakan lingkungan yang mendorong perokok untuk mengurangi rokok bahkan berhenti sama sekali dari merokok. Dan yang paling penting adalah mencegah orang untuk tidak memulai merokok, membangun budaya kampus sehat, dan mempromosikan masa depan generasi muda yang bebas rokok.

Dari kampuslah didorong mengubah cara pandang bahwa tidak merokok adalah investasi. Pimpinan universitas dapat menetapkan kampus sebagai area bebas rokok (ada pengaturan area merokok) dan tidak mengizinkan semua bentuk iklan rokok, promosi dan penjualan rokok bahkan menolak segala bentuk sponsor rokok dan kerjasama dalam bentuk apapun dengan perusahaan rokok, termasuk yayasan-yayasan yang dibentuk perusahaan rokok untuk perbaikan citranya (beasiswa atau awards) di lingkungan kampus.

Penetapan kampus bebas rokok sangat tepat dimulai pada saat penerimaan mahasiswa baru. Mahasiswa yang lolos seleksi di perguruan tinggi negeri harus menandatangani kontrak tidak merokok selama masa studinya. Diperlukan kearifan pimpinan untuk menciptakan kawasan lingkungan kampus yang sehat, nyaman, bersih dari asap rokok dan iklan rokok, sehingga diharapkan kampus dapat melahirkan generasi muda yang sehat, kreatif dan bebas rokok.

Faktanya di beberapa sudut kampus masih ada tempat yang digunakan untuk merokok. Bahkan kalaupun tidak merokok, mahasiswa dapat menyulut rokok di luar kampus entah itu di kampus, burjo, kontrakan/kos, dan sebagainya terutama ketika nongkrong bersama. Hal ini menunjukkan meskipun mahasiswa sudah didorong untuk tidak merokok faktanya tetap banyak yang merokok.

Terdapat berbagai cara untuk mencegah mahasiswa menjadi perokok, antara lain :

  1. Hindari Berkumpul Dengan Teman-teman Perokok

Mungkin banyak dari teman-teman kita yang sudah merokok. Kitaboleh saja berteman dengan mereka, namun usahakan kita tidak berkumpul saat teman-teman merokok. Cukup kita bersikap baik dan berteman sewajarnya saja. Meski begitu sebenarnya tidak semua lingkungan perokok itu jahat dan menjerumuskan. Sebagai contoh di angkatan penulis meski banyak yang merokok namun tidak pernah menawari teman yang tidak merokok untuk merokok. Mereka sendiri sebenarnya sadar kalau sedang dalam kecanduan.

  1. Jangan Malu Untuk Mengatakan Bahwa Kita Bukan Perokok

Banyak dari kita akan malu ketika menolak tawaran merokok. Walaupun mungkin teman penulis cukup baik dengan tidak menawari merokok namum di luar sana pasti banyak yang tidak sebaik itu. Apalagi jika lingkungannya cukup buruk dan liar. Karena itu diusahakan untuk menghindari teman yang memang pekerjaannya melanggar aturan kampus karena orang seperti itu biasanya adalah perokok dan akan mengajak orang lain untuk merokok.

 

  1. Sadar Akan Bahaya Rokok

Tanamkan pada diri sendiri bahwa merokok itu memang akan memberikan dampak yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Dengan cara itu anda dapat lebih menjaga diri dari pengaruh-pengaruh yang diberikan oleh teman. Namun yang harus diwaspadai adalah jangan pernah sekali-kali mencoba. Penulis yakin hampir seluruh perokok teruatama mahasiswa sebagai manusia yang berpendidikan sadar betul akan bahaya rokok, namun kenapa mereka tetap melakukannya? Itu karena mereka sudah kecanduan. Sama seperti orang yang suka mencuri. Walaupun sudah mengerti bahwa mencuri itu dosa namun tetap saja dilakukan karena sudah terbiasa dan kecanduan. Terkadang hawa nafsu itu bisa jauh lebih kuat dari akal sehat.

 

  1. Perbanyak Melakukan Hal-hal Positif

Merokok banyak dilakukan karena sesorang sedang santai dan tidak melakukan aktivitas. Jika aktivitas kita padat maka kesempatan untuk merokok juga akan berkurang. Kita  dapat melakukan kegiatan-kegiatan postif seperti olah raga, membaca, atau melakukan kegiatan lain yang kita senangi. Meskipun begitu hal tersebut tidak menjamin kita tidak terdorong untuk merokok. Seringkali dijumpai di tempat futsal setelah bermain mahasiswa akan merokok sambil merilekskan diri. Pada akhirnya semua kembali pada diri sendiri yaitu kesadaran dan kemauan untuk tidak merokok.

Sebagai mahasiswa yang hidup jauh dari tempat asal akan memiliki kebebesan untuk menentukan kegiatan apa yang ingin diikuti. Apabila tidak didasari dengan iman dan kesadaran yang kuta maka mahasiswa akan rentan untuk jatuh dalam pergaulan yang salah. Dengan berkumpul bersama orang-orang yang baik niscaya kita sebagai mahasiswa pun akan terdorong untuk menjadi baik.

 

Daftar Pustaka :

https://solomoncel.wordpress.com/2012/04/05/remaja-dan-permasalahannya-bahaya-merokokpenyimpangan-seks-pada-remaja-dan-bahaya-penyalahgunaan-minuman-kerasnarkoba/

http://dedihumas.bnn.go.id/read/section/artikel/2014/03/10/929/pengertian-narkoba

http://www.newsfarras.com/2015/05/cara-pencegahan-penyalahgunaan-narkoba.html

https://abuelsah.wordpress.com/2014/02/26/makalah-mengatasi-penyalahgunaan-narkoba-di-kalangan-pelajar/

http://www.kompasiana.com/setyodwinugroho/kebiasaan-merokok-perlu-ditinggalkan-oleh-mahasiswa-di-fakultas-ilmu-sosial-universitas-negeri-yogyakarta_55288b316ea8348d078b4590

http://www.kompasiana.com/juanita/kampus-bebas-rokok_5500ef02a33311e5725125c7

http://www.kompasiana.com/vitoaryapratama/cara-efektif-berhenti-merokok-di-kalangan-remaja_54f96229a33311ef048b4d16

 

jason.hartanto (7)

Mahasiswa Teknik Geologi UGM angkatan 2015