Perkembangan Ilmu Geologi di Indonesia Berdasarkan Fakta Terkini

 

Geologi adalah ilmu (sains) yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses pembentukannya. Orang yang menjadi mempelajari dan ahli di bidang geologi disebut geolog. Di indonesia terdapat empat universitas dengan akreditasi A untuk jurusan geologi yaitu Unpad, UGM, ITB, dan UPN Veteran Yogyakarta.
Indonesia sebagai negara yang berada di antara tiga lempeng besar yaitu lempeng eurasia, lempeng pasifik, dan lempeng indo-asutralia memiliki banyak potensi sumber daya alam. Yang patut di cermati adalah tidak semua sumber daya alam itu melimpah di Indonesia walaupun ada dengan persentase kecil secara global
Sebagai contoh adalah sumber daya alam yang paling banyak menjadi sorotan saat ini adalah tembaga dengan tempat penambangan di Grasberg, Papua , yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia. PT Freeport Indonesia (PTFI) merupakan perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.
Tambang terbuka Grasberg berada pada ketinggian 4.285 m di atas permukaan laut (dpl), dan secara geologi terletak pada suatu lingkungan tektonik yang sangat komplek akibat dari tumbukan dua lempeng besar, yakni Lempeng Australia yang relatif bergerak ke utara dan Lempeng Pasifik yang relatif bergerak ke Tenggara. Akibat tumbukan ini, terjadi serangkaian kegiatan tektonik, salah satunya terjadinya di daerah Grasberg yang diikuti oleh kegiatan magma, kegiatan cairan hidrotermal dan mineralisasi yang berulang, membentuk cebakan ekonomis mineral bijih tembaga, emas dan perak primer. Berdasarkan data geologi, Grasberg merupakan bekas gunung api purba yang telah padam, dan pada bagian diatremanya terbentuk cebakan ekonomis mineral bijih primer tersebut diatas, yang saat ini sedang ditambang.
Yang harus dipahami dan dimengerti terutama bagi orang awam adalah dalam daerah hidrotermal mineral yang terbentuk bukan saja yang tersusun atas unsur Cu, Ag, dan Au saja, namun juga ada kemungkinan keberadaan mineral radioaktif. Batuan yang ada di Papua terutama di Papua tengah memiliki umur yang tua hingga masa Paleozoikum. Batu yang tua ini dahulunya berada di daerah stabil yang memungkinkan untuk terakumulasinya mineral radioaktif misal uranium.

Peta Sumber Daya Mineral Radioaktif
Sumber : http://geologi.iagi.or.id/wp-content/uploads/2011/07/ndaru-5.png
Tidak hanya di Papua namun diberbagai tempat di Indonesia ternyata sebenarnya banyak potensi keterdapatan sumber daya mineral radioaktif. Jika tadi sudah dibahas di Papua tengah maka tempat lain yang memungkinkan keberadaan uranium adalah di Kalimantan, Sulawesi, Nusa tenggara, dan sebagainya. Sebagai contoh salah satu daerah yang keberadaan uraniumnya telah diteliti adalah Kalimantan Barat.
Berikut adalah berita yang diambil dari salah satu portal berita terpercaya.
Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) memendam potensi mineral radioaktif Uranium hingga lebih 25 ribu ton. Di sejumlah negara, Uranium digunakan sebagai sumber energi listrik, senjata nuklir, mendukung dunia kedokteran, bahkan membunuh parasit dan hama tanaman.

“Hingga Mei 2014, terdapat 25.436 ton U3O8 (lambang kimia Uranium) di Kalan (sebuah desa di Kabupaten Melawi) saja. Belum di Melawi dan Kapuas Hulu,” kata Kepala Bidang Eksplorasi Pusat Pengembangan Geologi Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Dr Ngadenin Hadisuwito saat mendatangi Pontianak, Kalbar, Jumat (15/8/2014).

Angka tersebut terdiri dari 1.608 ton kategori terukur, 6.456 ton terindikasi, 2.648 ton kategori tereka, dan 14.727 ton hipotetik. Menurut Ngadenin, penyelidikan keberadaan mineral Uranium di Kalimantan bermula pada 1970 dan bekerja sama dengan CEA Prancis. Pada 1974, eksplorasi dilakukan di Kalan. Eksplorasi berlanjut ke Melawi-Mahakam hingga 1977.

Selain Uranium, penyelidikan juga menemukan mineral radioaktif lain yaitu Kalium dan Thorium di Kalbar. Thorium dikenali keberadaannya bersama Zirkonn, Ilmenit, dan mineral berat lainnya. Keberadaannya berada pada endapan plaser sungai atau pantai. Lokasinya seperti di Kabupaten Ketapang, Nanga Tayap, Tumbang Titi, dan Marau.

“Thorium ini penting. Merupakan sumber energi nuklir utama di masa depan karena memiliki banyak keunggulan dibanding Uranium seperti kelimpahan hingga lima kali lipat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Batan Dr Djarot Wisnubroto mengatakan Indonesia mengandung sedikitnya 60 ribu ton Uranium. Selain Kalbar, wilayah potensial Uranium yaitu Kalimantan Timur, Bangka Belitung, Sulawesi Barat, dan Papua.

Namun, ujarnya, penambangan mineral radioaktif tak dapat dilakukan secara komersial. Sebab, tak ada peraturan yang membolehkannya.

“Jadi kalaupun ada PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) pun kita tetap mengimpor Uranium seperti juga banyak negara lain yang memiliki deposit Uranium besar, namun tetap mengimpor. Jadi kita simpan saja untuk generasi yang akan datang. Kebetulan harga Uranium masih murah,” ujarnya.(Ant)
http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/08/15/277943/batan-persediaan-uranium-di-kalbar-lebih-25-ribu-ton
Bisa dibilang uranium ini adalah sumber daya energi masa depan yang sangat potensial untuk menggantikan peran dari minyak dan gas bumi. Sebagai geologist maka sudah menjadi kewajiban untuk ikut membantu eksplorasi uranium ketika pemerintah membutuhkan. Jangan sampai kejadian Freeport terulang kembali. Perizinan yang dimulai pada tahun 70 an itu malah membawa sengsara saat ini. Sumber daya alam kita yang melimpah malah dikeruk oleh bangsa asing.
Fakta keberadaan uranium di Indonesia sudah seharusnya mendorong ahli geologi untuk meneliti dan memperkirakan berapa cadangan uranium seacra keseluruhan di Indonesia. Daerah daerah yang belum dieksplorasi sebaiknya disimpan dan jangan sampai di ketahui oleh asing. Walaupun hal itu sulit karena sebenarnya jauh sebelum kemampuan ahli geologi kita sehebat sekarang zaman dahulu sudah banyak geologist asing yang memetakan daerah kita.
Tentu saja geologi tidak hanya berbicara tentang sumber daya alam seperti mineral namun juga sumber daya energi dan lingkungan. Untuk sumber daya energi sepertinya akan lebih sulit karena cadangan minyak indonesia saat ini telah menipis. Yang harus digaris bawahi adalah walaupun terdapat kemungkinan keberadaan migas di bawah permukaan bumi namun jika tidak ekonomis untuk di eksploitasi maka kemungkinan besar tidak akan di proses lebih lanjut.
Dahulu Indonesia memiliki cadangan minyak terbukti dan ekonomis hingga 27 miliar barrel, namun sudah diproduksi sekitar 22,9 miliar barrel. Sehingga tersisa 3,7 miliar barrel. Diperkirakan, cadangan tersebut akan bertahan sekitar 10 tahunan lagi (dari tahun 2015). Meski demikian, Indonesia sebenarnya masih punya 43,7 miliar barrel cadangan minyak, namun dibutuhkan eksplorasi berbiaya dan berteknologi sangat tinggi.
Meskipun begitu bukan berarti geolog-geolog muda dapat khawatir. Karena justru itu menjadi tantangan bagi ahli berbagai disiplin ilmu bagaimana memnafaatkan cadangan minyak yang belum potensial tersebut.
Bidang lain yang seringkali dipandang sebelah mata bagi geolog adalah Geologi Lingkungan. Kondisi terkini Indonesia dalam hal kebencanaan masih kurang terutama dalam penanggulangan. Yang paling sederhana adalah bencana tanah longsor.
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut. Air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu: lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng India-Australia yang bergerak saling menumbuk. Akibat tumbukan antarlempeng tersebut, maka terbentuk daerah penunjaman yang memanjang di sebelah barat Pulau Sumatera, sebelah selatan Pulau Jawa hingga ke Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah utara Kepulauan Maluku, dan sebelah utara Papua. Konsekuensi lain dari tumbukan tersebut adalah terbentuknya palung samudera, lipatan, punggungan danpatahan di busur kepulauan, sebaran gunungapi, dan sebaran sumber gempa bumi.Gunungapi yang ada di Indonesia berjumlah 129 atau 13 persen dari jumlah gunungapi aktif dunia. Dengan demikian Indonesia rawan terhadap bencana letusan gunungapi dan gempa bumi. Di beberapa pantai, dengan bentuk pantai sedang hingga curam, jika terjadi gempa bumi dengan sumber di dasar laut atau samudera dapat menimbulkan gelombang tsunami.
Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggungan dengan kemiringan sedang hingga terjal, berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.
Terdapat beberapa gejala tanah yaitu :
• Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing.
• Biasanya terjadi setelah hujan.
• Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
• Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.
Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut kemiringan lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan. Ancaman tanah longsor biasanya terjadi pada bulan November, karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar, sehingga mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga-rongga dalam tanah, yang mengakibatkan terjadinya retakan dan rekahan permukaan tanah.

Pada waktu turun hujan, air akan menyusup ke bagian tanah yang retak sehingga dengan cepat tanah akan mengembang kembali. Pada awal musim hujan dan intensitas hujan yang tinggi biasanya sering terjadi kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat. Hujan lebat yang turun pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Dengan adanya vegetasi di permukaannya akan mencegah terjadinya tanah longsor, karena air akan diserap oleh tumbuhan dan akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah. Lereng atau tebing yang terjal terbentuk akan memperbesar gaya pendorong.
Masalah tanah longsor ini ibarat masalah pelik yang sering menghantui penduduk yang tingga didaerah lereng gunung. Dibutuhkan pengertian dan pemberian informasi yang valid kepada warga agar jatuhnya korban jiwa dapat dihindari. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menanggulanginya dan itu dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu pra kejadian, saat kejadian, dan pasca kejadian.
1) Pra Kejadian
Sebelum kejadian tanah longsor berlangsung dapat dilakukan pemetaan geologi untuk mengidentifikasi kondisi daerah rawan bencana. Biasanya keberadaan struktur geologi akan memberikan dorongan untuk terjadinya pergerakan massa. Selain itu dengan data geologi yang sudah diambil kita dapat memberi rekomendasi kepada pihak terkait tentang daerah mana saja yang mesti dihindari untuk dimukimi. Apabila terdapat rumah yang terletak di sekitar lereng maka dapat dianjurkan untuk direlokasi karena meskipun sudah dibangun penahan dan teras siring, kedua hal tersebut hanya sebagai penghambat dan tidak menjamin sepenuhnya tidak akan terjadi pergerakan massa. Apalagi jika kandungan fluida dalam lapisan batuan penyusun lereng cukup tinggi. Sifat fluida sebagai agen erosi adalah berusaha untuk mencapai equilibrium level. Equilibrium level adalah paras dimana sudah tidak terjadi erosi dalam hal ini termasuk pergerakan fluida sebagai agen erosi. Selain itu kita bisa memberikan sosialisasi tentang tanda-tanda akan terjadinya pergerakan massa seperti yang telah disebutkan pada penjelasan tentang tanah longsor diatas.

2) Saat kejadian
Saat kejadian berlangsung sebenarnya tidak banyak hal yang bisa dilakukan. Berbeda dengan Tsunami dan Gempa bumi yang memiliki rentang waktu kejadian, tanah longsor berlangsung sekejap karena pengaruh gravitasi. Karena itu langkah paling efektif adalah pencegahan agar tidak jatuh korban jiwa yaitu dengan memaksimalkan langkah-langkah pra kejadian.
3) Pasca Kejadian
Kelemahan sistem kebencanaan di Indonesia adalah baru tanggap setelah terjadi kejadian yang merenggut banyak korban jiwa. Langkah-langkah yang harusnya dilakukan pada saat pra kejadian malah dilakukan setelah kejadian. namun untuk hal yang harus dilakukan setelah kejadian teruatama adalah dengan mewaspadai terjadinya longsor susulan. Bagaimanapun dalam pergerakan massa terutama yang terjadi saat hujan seringkali meluncur diatas bidang gelincir. Bidang gelincir itu sendiri juga berpotensi untuk bergerak dan menjadi longsor susulan.
Setelah membahas tentang Sumber Daya Mineral berupa Uranium, Perkembangan eksplorasi minyak bumi saat ini, dan pengenalan dan pencegahan tentang longsor, sekarang tiba saat kita mengambil benang yang mengaitkan tiga contoh masalah tentang geologi tersebut. Benangnya adalah ketiga-tiganya membutuhkan kemampuan geologi yang mumpuni dan juga kemauan untuk memberikan perubahan. Sebagai tambahan Penelitian geologi membutuhkan dana yang besar dan seringkali Pemerintah agak abai karena kekurangan dana, katanya. Akhirnya Pemerintah mengundang investor asing untuk datang dan diajak bekerjasama mengelola SDA yang ada. Padahal sesungguhnya SDA jika ingin digunakan sebesar-besarnya untuk kemamkmuran rakyat maka data-data SDA termasuk dalam data rahasia. Jika asing sampai tahu maka mereka akan melakukan segala upaya bagaimana mengeruk kekayaaan bumi Indonesia dengan biaya dan bagi keuntungan kepada pemerintah sekecil-kecilnya. Ahli geologi secara umum adalah yang bergerak berdasarkan keberadaan proyek. Tidak ada gunanya ahli geologi siap untuk membantu tapi tidak ada sokongan dana. Pada akhirnya banyak ahli dengan ilmu yang ekspert memilih bekerja dengan perusahaan asing. Dengan dukungan dari perintah diharapkan akan lebih banyak lagi penelitian yang ditindak lanjuti. Bagaimanapun penelitian ilmiah masih lebih jujur dibandingkan dengan bisnis. Potensi yang ada sebenarnya melimpah. Saat ini bukan saatnya berkata Indonesia kekurangan ahli. Banyak ahli kita yang malah berkarya dan berkarir di laur negeri. Apabila ingin diadakan perubahan maka sudah saatnya dilakukan dari sekarang. Indonesia adalah negara kaya namun jangan sampai kekayaaan itu dicuri orang. Tidak ada kata terlambat untuk berubah namun tidak berguna berubah bila semua sudah terlambat.

Daftar Pustaka :
https://id.wikipedia.org/wiki/Geologi
http://ptfi.co.id/id
http://ptfi.co.id/id/media/news/grasberg-mining-process-track-record
Bagaimana Uranium Terbentuk dan Bersembunyi ?
http://geologi.iagi.or.id/wp-content/uploads/2011/07/ndaru-5.png(……gambar……)
http://www.batan.go.id/ensiklopedi/03/01/01/02/03-01-01-02.html
http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/08/15/277943/batan-persediaan-uranium-di-kalbar-lebih-25-ribu-ton
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/09/07/073500026/Cadangan.Minyak.Indonesia.Tinggal.3.7.Miliar.Barrel
http://www.esdm.go.id/berita/42-geologi/1162-faktor-faktor-penyebab-tanah-longsor.html?tmpl=component&print=1&page=
http://www.esdm.go.id/berita/42-geologi/1162-faktor-faktor-penyebab-tanah-longsor.html?tmpl=component&print=1&page=
http://p2mb.geografi.upi.edu/Landslide.html

Longsor

jason.hartanto (11)

Mahasiswa Teknik Geologi UGM angkatan 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.