Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan

Mahasiswa adalah “maha” siswa, yaitu seorang siswa yang telah mencapai tingkat lebih tinggi lagi. Mahasiswa adalah seseorang yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Mahasiswa adalah seseorang yang memiliki potensial dalam memahami perubahan dan perkembangan di dunia pendidikan dan lingkungan masyarakat. Yang memiliki posisi dan peran sebagai agent of change, social controler, dan the future leader.
Bukan zamannya lagi mahasiswa untuk sekedar menjadi pelaku pasif atau menjadi penonton dari perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi tetapi mahasiswa harus mewarnai perubahan tersebut dengan warna masyarakat yang akan dituju dari perubahan tersebut yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Mahasiswa harus menjadi agen pemberdayaan setelah perubahan yang berperan dalam pembangunan fisik dan non fisik sebuah bangsa yang kemudian ditunjang dengan fungsi mahasiswa selanjutnya yaitu social control, kontrol budaya, kontrol masyarakat, dan kontrol individu sehingga menutup celah-celah adanya ketimpangan. Mahasiswa bukan sebagai pengamat dalam peran ini, namun mahasiswa juga dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat, karena tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa merupakan bagian masyarakat. Idealnya, mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat, berlandaskan dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikannya, norma-norma yang berlaku disekitarnya, dan pola berpikirnya.
Secara garis besar ada empat peran yang harus dipikul oleh mahasiwa. Keempat peran ini adalah peran yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh mahasiswa. Keempat peran itu, adalah:
Agent of change
Mahasiswa berperan di dalam melakukan perubahan terhadap kondisi bangsa. Saat ini bangsa kita sedang mengalami kondisi terpuruk. Dari segi ekonomi kita melihat masih banyak rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kesenjangan antara si Kaya dan si Miskin sangat jelas sekali terlihat. Yang kaya sibuk memperkaya diri sendiri sementara yang miskin harus berjuang keras untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Dari segi politik, kita melihat banyak pejabat yang melakukan korupsi. Mereka sibuk untuk memperkaya diri sendiri dan melupakan amanahnya untuk mensejahterakan rakyat. Bagaimana ingin menyejahterakan rakyat sementara uang rakyat saja mereka curi. Sungguh ironi memang Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam yang dimilikinya tetapi untuk mensejahterakan kehidupan rakyat saja, negara ini belum mampu untuk melakukannya. Untuk itu mahasiswa sebagai agent of change diharapkan dapat membuat perubahan terhadap bangsa ini.
Iron Stock
Iron stock merupakan peranan mahasiswa yang tidak kalah penting, dengan idealisme yang dimilikinya membuat mahasiswa menjadi tangguh untuk menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Mahasiwa adalah aset yang penting di dalam melakukan pergerakan dan perubahan. Tentunya di dalam menjalankan peran ini mahasiswa harus memiliki skill yang di dapat dari pengalaman organisasi di kampus dan mahasiswa harus memiliki akhlak mulia agar ilmu yang ia dapat dapat dipergunakan untuk melakukan hal-hal yang baik.
Social control
Mahasiswa berperan dalam melakukan kontrol ketika melihat adanya gejala yang tidak beres di tengah-tengah masyarakat. Mahasiswa yang akan mengontrol perilaku pemerintah yang bertentangan dengan Undang-undang dan merugikan masyarakat. Kontrol yang dilakukan oleh mahasiswa bisa saja dalam bentuk demonstrasi. Selama ini orang berpandangan negatif terhadap mahasiswa yang melakukan demo. Padahal demo yang dilakukan oleh mahasiswa itu hanya semata-mata untuk membela kepentingan rakyat. Siapa lagi yang akan membela dan menjadi garda terdepan dalam pergerakan untuk rakyat kalau bukan mahasiswa yang notabene juga berasal dari rakyat. Tentunya demo yang dilakukan oleh mahasiswa harus mengindahkan norma-norma yang ada sehingga demo dapat berjalan dengan tertib dan damai. Selain dengan demonstrasi, mahasiswa juga dapat melakukan kontrol sosialnya dengan jalan diskusi dan melakukan kajian. Namun cara seperti apa yang tepat untuk melakukan kontrol sosial, itu dikembalikan kepada diri masing-masing mahasiswa.
Moral Force
Mahasiswa dituntut untuk memiliki akhlak yang baik, karena mahasiswa berperan sebagai teladan di tengah-tengah masyarakat. Segala tingkah laku mahasiswa akan diamati dan dinilai oleh masyarakat. Untuk itu mahasiswa harus pandai menempatkan diri dan hidup berdampingan di tengah-tengah masyarakat.
Pada kenyataannya mahasiswa saat ini seakan lupa siapa dirinya dan untuk apa mereka dikuliahkan. Kaum minoritas berintelektual ini sebenarnya merupakan tulang punggung pembangun bangsa dan negara menuju perubahan yang lebih baik. Sedikit kita melihat sejarah perubahan bangsa, dimana motor penggerak utamanya adalah mahasiswa seperti kemerdekaan Indonesia yang tidak lepas dari peranan kaum muda dan mahasiswa, peralihan orde lama ke orde baru dan yang terakhir adalah reformasi 1998 yang meruntuhkan orde baru. Namun pola pikir semacam ini kadang tidak dipahami oleh seorang mahasiswa yang kadang menganggap pola pikir semacam ini sebagai pola pikir yang “Berat”. Negara sudah ada yang memikirkan, mengapa kita ikut berpikir tentang negara, begitulah gampangannya sedikit pola pikir yang ada saat ini.

Pola pikir yang semacam ini wajar adanya karena memang perubahan zaman yang luar biasa pada saat ini. Tidak dapat dipungkiri memang perjuangan mahasiswa dulu dan sekarang berbeda. Zaman dulu secara jelas yang harus dihadapi seperti penjajah, penguasa orde lama atau penguasa orde baru. Zaman saat ini lawan yang dihadapi adalah hal yang abstrak, hedonisme dan apatisme. Paham-paham seperti ini semakin tumbuh berkembang dalam diri mahasiswa seiring dengan pencarian jati dirinya. Bahkan sampai dengan saat ini masih ada mahasiswa yang bingung tentang jati dirinya dan kebingungan dalam menentukan arah hidup selanjutnya. Mahasiswa yang kebingungan tersebutlah mayoritas banyak yang terjebak dalam pusaran hedonisme yang pasti berpusat pada hura-hura dan sifat kosumtif. Memenuhi kepuasaan pribadi seakan membudaya. Shopping, clubbing, narkoba, free sex mewarnai kehidupan mahasiswa saat ini.

Hal-hal semacam itulah yang identik dengan mahasiswa saat ini. Sebenarnya mencari kesenangan itu wajar saja asalkan jangan berlebihan. Batas kelebihan itu dapat dilihat dari batas kewajaran yang ada dimasyarakat. Memang kita sebagai mahasiswa terkadang jenuh dengan hal-hal yang terus dipenuhi dengan agenda akademik. Tapi kejenuhan semacam itu dapat disalurkan ke hal-hal yang lebih positif, contohnya ikut dalam organisasi sebagai ajang bersosialisasi. Organisasi juga dapat membentuk pola pikir kita menjadi lebih kritis dan progresif dalam bentuk menulis, membaca atau berdikusi. Relaksasi (pacaran, berkaroke, nonton dibioskop, jalan-jalan bersama teman) itupun juga perlu untuk menyegarkan pikiran agar tidak terlalu tertekan dan frustasi dengan kegiatan sehari-hari, hal itupun manusiawi karena memang setiap orang butuh sedikit intermezzo hiburan tapi tetap kembali ke awal tadi, seorang mahasiswa harus mengerti batas-batas kewajaran dalam mencari kesenangan hidup dan tetap berpegang teguh pada ajaran agama.

Semua mahasiswa dari segala cabang keilmuan seharusnya sadar bahwa ia merupakan calon-calon pemimpin bangsa sebagai agent of change di masyarakat dan dapat resisten terhadap berbagai macam godaan hedonisme yang ada saat ini. Mahasiswa yang sadar pasti akan merasakan bahwa bangku kuliah yang dia enyam saat ini merupakan “The real education”, pendidikan yang penuh warna dan pertarungan pembentukan jati diri yang dinilai dengan intelektualitas cara berpikir. Mahasiswa yang baik juga seharusnya mampu berpikir secara rasional-sistematis, tidak hanya berpikir spontan tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan nantinya atas tindakan yang diambil contohnya tawuran antar mahasiswa di Jakarta dan Makassar. Apakah hal yang seperti itu dapat dikatakan sebagai kaum intelektual muda calon pemimpin bangsa yang mengedepankan otot dari pada otak ? Memang ironis jika ditelaah ulang.

Kemudian ada sebuah realita yang saat ini membudaya dikalangan muda, Mahasiswa yang seharusnya up to date news atau isu-isu nasional saat inipun kadang terbalik malah hanya up to date status di Twitter atau Facebook. Hal seperti ini jika dipikir ulang memang aneh namun merupakan sebuah realita yang ada saat ini. Tapi penilaian penulis secara umum terhadap hal seperti ini wajar karena memang mahasiswa merupakan jiwa muda yang ingin selalu mengekspresikan hati, pikiran dan perasaannya melalui berbagai macam media. Dan tidak sepenuhnya dalam jejaring sosial tersebut semua bernilai negative ada juga hal positifnya. Ekspresi-ekspresi yang ditimbulkan tadi sebenarnya merupakan buah dari kekuatan yang dimiliki oleh setiap mahasiswa, antara lain kekuatan moral (moral force), kekuatan ide (power of idea), kekuatan nalar (power of reason) tapi kadang hal tersebut tidak diolah dan dikelola dengan baik sehingga kekuatan-kekuatan tersebut tidak berfungsi secara optimal bagi mahasiswa dalam usaha menggapai semua cita-citanya atau bahkan malah terjerumus ke hal yang negative karena kegagalan mengelola beberapa kekuatan yang dimilikinya.
Berhadapan dengan realita yang ada bukan berarti tidak ada solusi yang dicari. Beberapa langkah bisa mulai dilakukan untuk setidaknya meningkatkan kualitas mahasiswa dan menempatkan fungsinya sebagaimana seharusnya. Hal-hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Organisasi
Banyak organisasi yang dapat diikuti di Universitas. Mulai dari BEM, UKM, Student Chapter, Organisasi kedaerahan, Organisasi khusus sesuai bidang ilmu yang digeluti, dan sebagainya. Belajar berorganisasi akan membuat kita belajar banyak hal. Yang pertama kali kita dapat pelajari adalah menghilangkan rasa “ego”. Dimana mahasiswa tidak hanya belajar untuk mengejar IPK tinggi namun juga meningkatkan skill berkomunikasi dan beradaptasi dengan berbagai lingkungan sosial yang berbeda. Bagaimana mahasiswa dapat berperan dalam masyarakat apabila mereka masih memiliki egoisme yang penting aku sukses? Setelah menghilangkan rasa ego kita akan belajar untuk bersabar dan menghargai perbedaan pendapat. Untuk mencapai kata mufakat dibutuhkan musyawarah dan diskusi yang baik. Saat memberikan ide dan gagasan itulah mahasiswa dapat mulai memberikan ide tentang apa yang akan kita berikan pada masyarakat? Sebagai contoh penulis bergabung dengan Seksi Mahasiswa Ikatan Ahli Geologi Indonesia. Disini salah satu program kerja yang ada tidak hanya bakti sosial namun juga memberikan ilmu berupa mitigasi bencana kepada siswa-siswa SD dan masyarakat yang hidup di daerah rawan bencana. Semua tergantung pada disiplin ilmu yang digeluti misal mahasiswa ekonomi akan memberikan edukasi tentang bagaimana menjadi entrepeneur. Mahasiswa sosial politik memberikan edukasi betapa pentingnya memberikan suara dalam pemilu. Mahasiswa Psikologi memberi edukasi tentang bagaimana cara yang baik untuk merawat orang-orang yan g memiliki gangguan jiwa. Mahasiswa kedokteran memberikan sosialisasi tentang bagaimana hidup yang yang sehat. Masih banyak lagi yang dapat dilakukan. Keinginan untuk berbagi dan bekerjasama dalam memberikan aksi adalah kunci awal untuk mewujudkan peran mahasiswa dalam masyarakat.

2) Keagamaan
Agama adalah salah satu benteng kuat yang melindungi mahasiswa terhadap sifat-sifat seperti hedonisme dan liberalisme berlebihan ala barat. Keinginan untuk memberikan manfaat pada masyarakat akan semakin kuat apabila juga didasari oleh tuntutan agama. Sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Agama juga akan membentuk kita menjadi orang yang beriman dan berusaha sebanyak mungkin untuk melakukan kebaikan. Mendengar ceramah, mengikuti kegiatan keagamaan, membaca kitab suci, dan sebagainya akan membuat kita semakin mengerti apa yang jharus dilakukan sebagai umat beragama. Dalam kehidupan kampus yang jauh dari pengawasan orang tua mahasiswa sangat rentan dengan pergaulan yang buruk. Dengan memiliki benteng yang kuat mahasiswa akan lebih mampu menolak ajakan buruk dan dapat mengembangkan tujuan yang mulia untuk berbagi pada sesama. Banyak organisasi keagamaan yang ada di kampus seperti SKI, SKK, SKB, dan sebagainya disesuaikan dengan agama masing-masing. Organisasi keagamaan juga bisa menjadi alternatif bagi mahasiswa yang bingung ingin UKM atau Organisasi apa karena hal mendasar yang dibutuhkan untuk berkiprah di organisasi keagamaan adalah keinginan untuk hidup sesuai tuntunan agama.
3) Akademik
Mahasiswa yang memberikan yang terbaik di bidang akademik bukan berarti study oriented tapi bisa juga ingin menyiapkan yang terbaik untuk masyarakat. Sebagai contoh adalah kakak angkatan penulis bersama teman-temannya menemukan alat pendeteksi longsor . Hal ini sangat berguna terutama di daerah rawan longsor. Melalui akademik kita bisa menciptakan benda dan ide yang berguna bagi masyarakat. Sebagai mahasiswa apabila kita menjadi ahli dalam ilmu yang dipelajari kita bisa ikut membantu pembangunan negara berasaskan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena apalah arti ilmu yang dimiliki apabila hanya dimanfaatkan untuk diri sendiri tanpa dibagikan pada orang lain.
Apabila 3 solusi diatas dilaksanakan maka diharapkan terjadi metamorfosa dari mahasiswa yang hidup bebas menjadi mahasiswa yang bertanggung jawab terhadapa apa yang dimiliki. Yang harus diingat kembali adalah tidak semua rakyat Indonesia dapat mengenyam pendidikan tinggi apalagi dengan spesialisasi ilmu tertentu misal kedokteran dan geologi yang sulit dipelajari. Karena itu sudah sewajarnya bagi insan yang menguasai ilmu-ilmu di perguruan tinggi untuk memberikan perubahan dan contoh. Bukan melalui anarki namun melalui solusi. Bukan melalui sikap apatis namun melalui sikap peduli. Bukan melalui orientasi uang namun pengabdian. Bangsa ini butuh lebih banyak lagi pemuda-pemudi seperti Bung Karno, Bung Hatta, Agus Salim, dan sebagainya. Para pahalawan kemerdekaan walaupun mendapat kesempatan menempuh pendidikan tinggi , mereka tidak lupa darimana mereka berasal. Padahal dengan ilmu yang dimiliki mereka bisa hidup sebagai kalangan profesional yang makmur namun mereka lebih memilih jalan perjuangan yang berdarah-darah dan mengorbankan segala yang dimiliki demi tujuan bersama yaitu Kemerdekaan Indonesia. Generasi muda Indonesia masa kini yang hidup nyaman dari hasil pengorbanan para pahlawan sudah semestinya mengisi kemerdekaan dengan hal-hal bermanfaat. Mahasiswa harus memiliki idealisme bahwa kepentingan bangsa yang utama dan tujuan dari semua perjuangan yang dilakukan adalah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Semakin banyak mahasiswa mengerti dan melakasanakn hal ini maka kemajuan bangsa akan makin terakselerasi menjadi bangsa yang maju. Hidup Mahasiswa! Hidup Indonesia!

Daftar Pustaka :
eprints.ums.ac.id/25376/2/04._BAB_I.pdf
http://faqihmuhammad-fm.blogspot.co.id/2013/03/realita-kehidupan-mahasiswa-masa-kini.html
http://www.dakwatuna.com/2015/04/20/67483/peran-mahasiswa-dalam-pembangunan-bangsa/#ixzz44uNalIzE
http://www.kompasiana.com/rezaramadhanunj/peran-dan-fungsi-mahasiswa_55dadb8a54977303099134c5

jason.hartanto (11)

Mahasiswa Teknik Geologi UGM angkatan 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.